Sunday, August 5, 2012

Berpikir Logis

Dalam hidup ini sering kita dituntut untuk berpikir logis dalam menganalisa semua permasalahan kehidupan. Berpikir logis, maksudnya adalah berpikir dan menganalisa apakah kesimpulan yang diperoleh dari analisa pikiran itu masih masuk akal atau tidak. Dalam hal ini yang disebut masuk akal adalah probabilitas kemungkinan terjadi fenomena tersebut. Semakin probable, maka hal itu dianggap semakin masuk akal. 

Masalahnya, seberapa tinggi probabilitas itu agar bisa disebut masuk akal? Sebagai ilustrasi saya gunakan contoh berikut ini. Anggaplah saya hanya pegawai rendahan dengan gaji 1 juta per bulan. Padahal saya sangat ingin memiliki sebuah Bugatti Veyron yang harganya sekitar 154 milyar. Apakah menurut anda saya sudah berpikir cukup logis? Tentu anda akan menganggap saya berkhayal dan cita2 saya itu tidak logis. Saya tahu anda berpendapat seperti itu karena probabilitas untuk bisa memiliki Bugatti Veyron itu sangat kecil bahkan nyaris mendekati nol. 


Berdasarkan ilustrasi tersebut di atas, mari kita lanjutkan ke pembahasan terjadinya alam ini. Para ilmuwan (termasuk juga para ateis) berpendapat bahwa alam ini terjadi secara kebetulan dan pada timeframe yang acak, dimana ada sekumpulan partikel yang tanpa alasan tahu2 bersinerji dan bertransformasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, sebagian partikel itu lalu berubah menjadi materi organik yang menjadi cikal bakal single living cell di alam ini. Pada tahapan ini masih bisa dianggap cukup logis karena probabilitasnya cukup besar.

Pada tahapan selanjutnya, protozoa2 itu juga akan bersinergi dengan alam ini sehingga mulailah tahapan evolusi spesies dari protozoa menjadi berbagai species ternasuk manusia. Perlu waktu milyaran tahun dan trilyunan alternatif evolusi sehingga terpilih spesies2 mana yang paling mampu beradaptasi dengan alam sehingga mreka bisa survive sampai saat ini.

Masalah yang timbul kemudian adalah spesies2 turunan dari protozoa itu memiliki pola yang terkesan sudah predefined. Contohnya misalkan hampir semua vertebrata selalu memilki dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga dan satu hidung. Tidak ada yang hidungnya dua dan matanya satu. Contoh lain lagi misalkan onta bisa memiliki kelopak ganda sedangkan spesies gurun pasir lainnya tidak memiliki kelopak ganda. 

Jadi seberapa besar probabilitas terjadinya spesies2 yang sangat spesifik itu dalam kurun waktu milyaran tahun? Apakah 25%, 10% atau 5% probabilitas? Saya lebih setuju jika probabilitasnya sangat kecil sekali, bahkan super super kecil, tetapi hal ini disetujui oleh para ilmuwan dan dianggap jawaban yang paling logis. 

Di sisi lain, para penganut konsep tuhan lebih setuju jika spesies2 itu memang sudah predefined sejak awal walaupun prosesnya terjadi secara otomatis. Ada suatu higher intelligence yang mengatur itu semuanya dalam sebuah mahakarya berupa universe blueprint. Karena pilihannya hanya dua, yaitu ada blueprint atau tidak, maka probabilitas dari konsep ketuhanan ini adalah sebesar 50%, ada atau tidak.

Mari kita bandingkan:

Ilmuwan mengatakan alam ini terbentuk secara acak dan spesies2 itu terbentuk dengan probabilitas yang sangat sangat kecil. 

Kaum bertuhan mengatakan alam ini dibentuk oleh tuhan. Benar atau salahnya klaim itu memiliki nilai probabilitas 50%.

Jadi menurut anda, lebih logis mana cara berpikirnya kaum bertuhan itu dibandingkan dengan cara berpikir ilmuwan jika ditinjau dari probabilitas penyebab terjadinya alam ini?

No comments:

Post a Comment