Saturday, August 11, 2012

Etimologi, Mencipta dan Membuat

Melalui etimologi bahasa, kita bisa mengetahui bahwa definisi itu pada umumnya muncul sesudah benda atau kejadiannya dikenali. Misalnya kata "burung", itu pasti muncul setelah orang melihat burung lalu memberinya nama. Contoh lain lagi misalnya "berlari", itu pasti muncul setelah ada orang yang berlari dan aktivitas itu perlu diberi nama.

Selain itu ada juga definisi yang muncul walaupun bendanya tidak dikenali. Contohnya tuhan, malaikat, setan, roh, hantu, sorga, neraka, astral plane, alam gaib dan lain2. Walaupun benda2 itu tidak dikenali, tetapi ada definisi yang dibuat dengan mengacu pada benda2 lainnya. Cara kerjanya tidak beda jauh dengan membuat imajinasi atau idea. Jadi imajinasi itu ada juga yang sudah diberi nama seperti contoh benda2 tadi. Contohnya, "hantu" adalah sesuatu mahluk yang berbentuk seperti gas, tidak makan dan minum, tidak jelas asal usulnya, suka nakut2in manusia, bisa menembus benda2 padat lainnya tapi tidak bisa menembus bumi. Kita lihat ada sedikit flaws dalam soal menembus bumi itu. :))


Sekarang kita bahas asal kata "penciptaan" (creation). Apakah yang disebut kreasi? Kreasi adalah hasil olah pikir yang diwujudkan secara fisik. Contohnya misalnya saya membuat kreasi seni melipat kertas (origami). Origami yang telah terbentuk dari hasil pikiran saya itu disebut sebagai kreasi saya, atau ciptaan saya. Jadi, definisi penciptaan adalah "the act of making, inventing, or producing" (Merriam Webster), atau mengadakan hasil karya dengan cara membuat atau memproduksi. Kita bisa amati bahwa dalam penciptaan itu ada bahan baku dan ada ruangannya untuk menempatkan bahan baku itu dan mengolahnya. Kita lihat bahwa mencipta itu hanyalah mengubah bentuk atau komposisi dengan cara assembling, converting, reengineering, transforming, mutating dan sejenisnya. Tidak ada yang berkurang atau berlebih secara gaib, semuanya jelas sumbernya dari mana dan sisanya dibuang kemana.

Dalam perkembangannya kata kreasi itu kemudian diplesetkan oleh kaum agamis menjadi menciptakan sesuatu tanpa bahan baku. Padahal seumur2 tidak pernah ada bukti manusia mampu menciptakan sesuatu tanpa bahan baku. 

Jadi kalau ada orang2 yang mengatakan bahwa alam ini "diciptakan" tanpa bahan baku, ditambah dengan sedkit rapalan semacam kun fayakun atau abrakadabra, maka bisa kita lihat sebetulnya siapa yang suka berimajinasi dan suka membuat plesetan definisi melenceng dari definisi awalnya. Sesuatu yang diawali dengan plesetan pasti hasil akhirnya akan kepleset-pleset. Percayalah.... :))

No comments:

Post a Comment