Tuesday, September 4, 2012

Konsistensi

Konsistensi adalah sikap memegang teguh suatu pikiran, perkataan atau perbuatan. Tidak ada keharusan adanya sinkronisasi antara pikiran, perkataan dan perbuatan, tapi akan lebih baik lagi jika bisa sinkron ketiga2nya. Contoh: Pikiran males berangkat ke kantor. Berkata pada pasangannya, "Yayang, aku enaknya ngator apa ngga ya, koq rasanya males banget nih." Faktanya, tetep berangkat ke kantor juga karena ada alasan lain yang lebih penting.

Tidak konsisten dalam pemikiran tidak akan terlacak. Itu baru bisa terlacak jika sudah dituliskan atau dikatakan. Jika paginya mengatakan percaya pada tuhan lalu sorenya mengatakan pengakuan sebagai atheis, itu dapat disebut tidak konsisten. Konsistensi tidak harus seumur hidup memegang teguh suatu prinsip, yang penting prinsip itu dipegang teguh pada suatu durasi tertentu. Contoh: Dulu saya percaya sekali bahwa tuhan itu suka mengamati dan menilai manusia. Sekarang sudah tidak demikian lagi, dan itu tidak bisa dikatakan tidak konsisten karena telah ada perubahan pemahaman berdasarkan berbagai penyebab.

Tidak konsisten tidak selalu bermakna buruk karena ada orang2 yang merasa tidak konsisten itu sama dengan dinamis, walaupun sikap dinamis ini sering merepotkan para bawahannya.

Sikap tidak konsisten yang merepotkan adalah jika itu terjadi dalam sebuah dialog atau debat. Beberapa menit yang lalu setuju dengan A, tapi sekarang setuju dengan B yang bertolak belakang dengan A. Contoh: Beberapa waktu yang lalu ada orang yang mengatakan bahwa beriman kepada tuhan itu adalah kebodohan karena tidak ada bukti eksistensinya koq ya dipercaya. Sayangnya, pada kalimat berikutnya orang tersebut menyatakan percaya pada enerji prana, jin dan khodam yang sebetulnya juga sama2 tidak jelas eksistensinya seperti tuhan itu. Kalau ada kasus seperti ini tentunya kita bisa dengan mudah menilai sebetulnya yang bodoh itu adalah orang2 yang beriman itu atau dia sendiri.

No comments:

Post a Comment