Tuesday, September 11, 2012

Logika (Sesi 2)

Anda sedang berjalan2 di mall. Tiba2 bertemu dengan seseorang yang anda kenal. Anda menyapanya dan kemudian anda berdua berbincang2 dengan asyiknya.

Pada saat anda memandang wajah orang itu, dalam hitungan milidetik logika komparasi anda sudah berjalan. Tanpa disadari anda telah mengakses database memori berupa wajah. Dari ribuan wajah yang terekam dalam memori anda, ada satu yang sangat mirip dengan wajah yang anda pindai itu dan anda tahu wajah itu milik seseorang bernama X. Beberapa milidetik kemudian anda menyapa orang tadi.

Lihatlah bagaimana proses dalam otak anda bekerja. Semuanya hanya dalam hitungan milidetik dan anda mengenali orang tersebut. Proses pengenalan itu disebut dengan rekognisi (recognition) yang artinya mengenali dari database yang sudah ada. Kognisi adalah mengenali, rekognisi adalah mengenali kembali. Dalam pengenalan itu terjadi proses komparasi, yaitu membandingkan wajah yang baru masuk memori dengan wajah dalam database memori. Komparasi inilah yang disebut dengan logika, sehingga logika aritmetik dalam komputer juga menggunakan pola2 komparasi seperti OR, XOR, AND dan NAND.

Dalam menggunakan logika komparasi ini ada aturan2nya. Misalnya, jika hanya mirip2 (70% mirip) apakah boleh dianggap sama. Atau misalnya apakah anda masih bisa mengenali wajah seseorang padahal wajahnya sudah berubah banyak dalam kurun waktu 20 tahun. Kekeliruan rekognisi ini dapat mengakibatkan anda salah menyapa orang yang anda kira teman 20 tahun yang lalu.


Korelasi antara berbagai kondisi yang diperlukan dalam komparasi itulah yang disebut dengan argumen atau premis. 

Contohnya:
Premis 1: Ada sebuah botol terbuat dari kaca. (100% valid)
Premis 2: Kaca itu mudah pecah. (80% valid)
Premis 3: Kaca anti peluru tidak mudah pecah, karena jauh lebih kuat dari kaca. (100% valid)
Premis 4: Botol kaca harganya murah. (80% valid)
Premis 5: Kaca anti peluru harganya lebih mahal dari harga botol untuk volume yang sama. (100% valid)

Kesimpulan: Botol kaca itu adalah barang yang mudah pecah. 

Kesimpulan ini diperoleh dari logika terhadap semua premis yang ada. Ada banyak jenis logika yang bisa digunakan, tetapi saya tidak akan membahas sampai sejauh itu.

Apakah kesimpulan di atas itu adalah sesuatu yang 100% valid? Tentu saja tidak. Anda bisa melihat ada tulisan 100% valid atau 80% valid yang ada di belakang setiap kalimat. Yang 80% valid, artinya ada kondisi2 tertentu dimana pernyataan itu menjadi tidak valid. Contoh misalkan "Kaca itu mudah pecah", itu menjadi tidak valid jika yang dibahas adalah kaca setebal 5 cm. 


Jika semua premis adalah 100% valid, maka DIHARAPKAN kesimpulannya akan menjadi 100% valid juga. Mengapa hanya "diharapkan" dan bukan "pasti"? Karena satu fenomena itu bisa memiliki sampai ratusan atau ribuan premis. Lima premis tidak selalu bisa mewakili ribuan premis sisanya. Oleh karena itu premis yang dipilih perlu diseleksi terlebih dahulu agar bisa menghasilkan kesimpulan yang mendekati valid. 


Kalau kita gambarkan secara diagram adalah sbb:

Mengamati fenomena --> komparasi dengan database memori --> memilah2 premis mana yang akan digunakan --> membuat kesimpulan.
Perjalanan pikiran dari sejak mengamati fenomena sampai dengan membuat kesimpulan itulah yang disebut dengan logika. Logika yang baik akan menghasilkan kesimpulan yang lebih baik dibandingkan dengan logika amburadul yang biasanya akan menghasilkan kesimpulan yang amburadul juga. 

Oleh karena itu jangan pernah keliru lagi, logika adalah proses pengambilan kesimpulan, sedangkan kesimpulan adalah hasil dari proses logika. 


Jadi jika ada yang mengatakan "Logika bukanlah suatu kepastian" itu adalah pernyataan yang amburadul karena "logika" itu adalah proses, sedangkan "kepastian" itu adalah kesimpulan. Dua kata itu tidak bisa dikaitkan sebagai subyek dan predikat.

No comments:

Post a Comment