Saturday, September 1, 2012

Memahami Epistemologi

Pengetahuan yang benar seperti yang telah dijelaskan dengan fakta, angka dan rincian konkret adalah dasar di mana metode ilmiah dibangun. Banyak usaha2 yang dilakukan untuk memastikan apakah data yang diperoleh adalah faktual dan benar. Epistemologi mengambil langkah lebih jauh karena berusaha untuk mengungkap dasar pengetahuan yang benar atau yang salah.

Identifikasi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang meneliti tentang pengetahuan, dan mengidentifikasikan kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah sepotong informasi adalah pengetahuan yang benar. Melalui pemahaman bagaimana sebuah pengetahuan yang benar itu didefinisikan, seseorang dapat menentukan perbedaan antara informasi palsu dan informasi yang benar.

Pertanyaan yang diajukan pada umumnya terdiri dari:

1. Apa kondisi yang harus dipenuhi sebelum pengetahuan itu dapat diperoleh? 
2. Apa yang membuat kondisi itu dianggap benar?
3. Apa peran kepercayaan bermain dalam proses memperoleh pengetahuan?
4. Apa batas-batas pengetahuan tentang hal itu?

Pembenaran
Proses pemisahan pengetahuan sejati dari pengetahuan palsu memerlukan identifikasi apakah sepotong informasi itu bisa disebut sebagai pengetahuan. Pada saat informasi telah memenuhi kriteria secara epistemologis, maka itu disebut sebagai proposisi. Sebuah definisi yang jelas tentang "pembenaran" harus disepakati sebelum menentukan apakah sebuah proposisi "dibenarkan" atau tidak.

Sejumlah bukti diperlukan untuk bisa sampai pada ksimpulan bahwa sebuah proposisi itu layak dianggap benar. Bukti ini terdiri dari informasi yang dikumpulkan dari pengalaman masa lalu, serta informasi yang diperoleh melalui panca indera. Ini dianggap sebagai bukti2 yang dapat diandalkan, dimana panca indera dapat secara akurat merekam lingkungan, dan pengalaman masa lalu juga dapat menjadi representasi yang valid dari pengetahuan.

Kondisi
Kondisi di mana informasi (atau proposisi) diperoleh merupakan kriteria penting dalam epistemologi. Kondisi ini merupakan sarana untuk menafsirkan atau menerima proposisi. Panca indera - penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa dan bau - adalah salah satu jalan masuknya proposisi agar bisa diterima. Interpretasi, atau proses menafsirkan apa yang diterima melalui indra adalah cara berikutnya. Memori pengalaman masa lalu juga berfungsi sebagai sarana untuik memeriksa sebuah proposisi. 

Keyakinan
Setelah proposisi dibenarkan, itu akan menyilang ke ranah keyakinan, memberikan sarana bahwa pembenaran itu dapat diandalkan. Tujuan akhir epistemologi adalah untuk menentukan apakah suatu sistem kepercayaan, atau keyakinan tertentu, memenuhi kriteria dalam hal apakah itu didasarkan pada pengetahuan yang benar atau tidak. Keyakinan sebetulnya hanyalah hasil akhir dari proses penalaran yang kacau. Mereka hanya sedikit atau tidak sama sekali menghasilkan dasar penentuan apakah proposisi dapat dianggap sebagai pengetahuan.

Keterbatasan
Dalam mempertimbangkan apa yang mendefinisikan sebuah pengetahuan adalah benar, epistemologi juga meneliti seberapa banyak pengetahuan itu dapat diketahui. Dengan kata lain, ia menanyakan apakah ada kemungkinan atau tidak bahwa manusia bisa mengetahui hal2 yang tidak diketahuinya itu. Garis penyelidikan ini akan masuk dalam ranah skeptisisme, di mana semua pengetahuan perlu dipertanyakan karena manusia tidak mungkin mampu membuat pengamatan yang valid atau benar. Bagi para skeptis, pengetahuan dapat terbukti menjadi tidak valid ketika orang yang merasa tahu tidak dapat menjelaskan kondisi di mana pengetahuan ini diperoleh. Akibatnya, panca indera itu sendiri akan dipertanyakan dalam hal bagaimana mereka mampu menerima input yang tersedia dan bagaimana mereka mempersepsinya.

No comments:

Post a Comment