Sunday, July 1, 2012

Filsafat Metafisika adalah Ilmu Menentang Arus

Filsafat termasuk metafisika, merupakan ilmu yang menentang arus, dalam arti cara kerjanya lumayan berbeda dari cara kerja ilmu pengetahuan lainnya. Filasafat terkadang membuat orang berkerut kening dan bahkan muak lantaran istilah yang aneh-aneh dan untuk memahaminya diperlukan ketekunan filosofis yang memakan waktu tidak cukup berjam-jam, tetapi bertahun-tahun.

Kendati demikian, dengan filsafat (metafisika) orang dapat menunjukkan bahwa manusia tidak hanya sekedar makhluk yang bisa makan, menikmati keenakan dunia dan alam semesta. Filsafat bertugas tidak lain menggemakan kenyataan. Manusia, dengan berfilsafat, menggemakan lagi nada metafisik kenyataan yang sudah pudar oleh hingar-bingarnya perjuangan memenuhi kebutuhan fisik belaka. Filsafat terus dan tak bosan-bosannya menggemakan suara kebenaran dan kebaikan, yang hampir sirna oleh pertarungan kepentingan sesaat dan usaha manipulasi yang sering tak terkendali.

Sebagai manusia yang, dari kodratnya, berakalbudi, kita semua berkemampuan filosofis. Dengan akalnya, manusia mencari rumusan baru tentang kenyataan fisik dan metafisik. Dalam perumusan sudah tersirat tanda bahwa manusia tidak terikat oleh apa yang kini dipegangnya, karena perumusan merupakan kegiatan abstraksi dari kenyataan. Abstraksi, pada giliranya, merupakan petunjuk adanya kemampuan transedental dalam diri manusia. Ia mau menempatkan seluruh kekiniannya itu dalam konteks yang lebih luas dan mendasar: prinsip hidup. Filsafat, dalam kedudukanya sebagai salah satu ilmu, bertugas mengeksplisitkan prinsip hidup yang sedikit banyak masih implisit adanya dalam diri setiap orang. Filsafat ingin mengangkat ke permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih sering didominir oleh keputusan kepentingan tertentu.

Filsafat (metafisika) tidak pernah berangkat dari dunia awang-awang atau khayalan. Titik tolaknya selalu pengalaman nyata inderawi. Pengalaman itu disistematisir. Kemudian berdasarkan pengalaman itu, dibangun refleksi yang spesifik. Kalau tidak berdasarkan pengalaman, refleksi akan mengambang tanpa makna dan isi, sehingga sia-sia. filsafat mengangkat pengalaman hidup untuk mencari prinsip-prinsip dasar.


Metafisika berangkat dari yang kita alami sampai kepada prinsip-prinsip dasar. Dengan demikian diharapkan bahwa kita sampai pada Sang Illahi yang disebut Allah oleh orang yang beragama. Selain itu, dengan menyadari keterbatasan daya pikir manusia, metafisika mengajarkan kepada kita kebijaksanaan hidup. Hidup perlu ditangkap dalam keseluruhannya, tetapi tidak berarti kita memahami kehidupan itu secara tuntas.


Dari segi bahasa, bahasa metafisika bersifat integratif dan indikatif. Dengan metafisika kita berusaha menyatakan semua pengalaman kita dengan mengangkat dasarnya yang paling dalam. Tetapi sekaligus, bahasa metafisika tetap terbatas, hanya menunjuk pada keseluruhan dan pada yang paling dasar dari pengalaman langsung.


Pengalaman langsung tetap kaya dan dalam. Ilmu, filsafat, termasuk metafisika, dan teologi, mengabdi pada kehidupan yang kita alami secara langsung. Metafisika tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri, tetapi sebagai salah satu jalan memperkaya kehidupan dengan jalan merefleksikan dan mengangkatnya ke permukaan.

(LambangMH.blogspot.com)

1 comment:

  1. mas...postinganny mana lagi....?

    tq

    ReplyDelete