Wednesday, December 26, 2012

Pengalaman Traumatis Membuat Kuat

TEMPO.CO, Jakarta - Pengalaman sulit membuat kita kuat. Para ilmuwan bidang psikologis menemukan bahwa ketika berbagai masalah terjadi, seperti penyerangan, badai, dan duka cita bisa merusak psikologis seseorang, beberapa trauma kecil bisa membuat seseorang bertahan.

“Tentu saja semua orang pernah mendengar pepatah ‘apapun yang tidak membunuhmu, bisa membuatmu lebih kuat,” kata Mark D. Seery, dari University of Buffalo dalam makalahnya yang muncul di Current Directions in Psychological Science, sebuah jurnal dari Association for Psychological Science. Namun, banyak ide-ide yang kelihatannya masuk akal, tetapi tidak didukung oleh bukti ilmiah.


Memang, banyak penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa kehidupan sengsara adalah pengalaman buruk untuk Anda. Kejadian-kejadian serius seperti kematian anak atau orang tua, bencana alam, diserang secara fisik, mengalami pelecehan seksual atau dibuang oleh keluarga bisa menyebabkan problem psikologis. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengatasinya adalah menganggap seolah hal tersebut tidak pernah terjadi. Namun, menurut Seery, saran itu sangatlah tidak realistis dan belum tentu menyehatkan.

Dalam sebuah penelitian, Seery dan rekan-rekannya menemukan bahwa orang yang mengalami banyak pengalaman traumatis dalam hidupnya secara umum akan lebih tertekan. Namun, mereka juga menemukan bahwa orang yang tidak pernah punya pengalaman buruk dalam hidupnya juga mempunyai problem sejenis. Orang dengan hasil terbaik adalah mereka yang mengalami berbagai pengalaman buruk. Studi lain menemukan bahwa orang yang mengalami nyeri punggung kronis merasa lebih baik jika mereka mengalami beberapa kesulitan yang serius. Sedangkan orang lain yang tidak mengalami nyeri punggung kronis dan mengalami beberapa kesulitan serius ternyata merasa lebih terganggu.

Salah satu kemungkinan untuk pola ini adalah bahwa orang yang sudah mengalami beberapa pengalaman buruk mempunyai peluang untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam mengatasi masalah. “Idenya adalah bahwa pengalaman hidup yang buruk bisa membuat orang lebih kuat, membuat mereka bisa lebih baik mengatasi kesulitan-kesulitan berikutnya,” ujar Seery seperti dikutip Science Daily, 16 Desember 2011.

Selain itu, orang yang sudah mengalami pengalaman-pengalaman buruk juga sudah teruji jejaring sosialnya, belajar cara mencari bantuan ketika mereka memerlukannya. Namun, penelitian ini tidak menyarankan orang tua untuk menyakiti anak-anak mereka sehingga mereka menjadi orang dewasa yang bisa menyesuaikan diri. “Kejadian negatif juga mempunyai efek negatif,” ujar dia. 

“Saya hanya meneliti ini sebagai ‘suatu harapan di tengah kesulitan’. Hanya karena sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang bukan berarti mereka dihancurkan oleh masalah tersebut,” ujar Seery menegaskan. 

================================

Contohnya seperti saya ini. Tadi malam saya mendadak terbangun dan lari ke dapur untuk melihat apakah kompor masih nyala atau tidak. Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada sekitar 16 panci yang jadi hitam legam atau meletot2 gara2 kelupaan mematikan kompor. Kasus 16 panci hitam dan meletot itu rupanya membuat saya menjadi traumatik jika harus memasak dengan menggunakan kompor. Sengaja saya tidak mencari kompor microwave, kompor listrik ataupun timer pengatur listrik / asupan gas, sekedar untuk menguji apakah saya menjadi semakin pelupa atau tidak. Faktanya khusus soal kompor mengompor ini saya selalu menjadi pelupa, padahal berbagai coding yang njelimet2 itu saya bisa hafal luar kepala. *tepok jidat*

No comments:

Post a Comment