Tuesday, July 3, 2012

Percaya dan Tidak Percaya

Ada postingan di salah satu blog yang menyatakan bahwa "tidak percaya gajah terbang itu ada" adalah berbeda dengan "percaya gajah terbang itu tidak ada". 

Alasannya, yang "tidak percaya gajah terbang itu ada" tidak perlu memberikan sebuah bukti karena yang harus memberikan bukti adalah yang "percaya gajah terbang itu ada". Sebaliknya, yang "percaya gajah terbang itu tidak ada" harus memberikan bukti ketiadaannya misalnya dengan memberikan bukti2 empiris mengapa gajah terbang itu tidak ada.


Walaupun post itu terkesan memberikan penjelasan terhadap kerancuan berpikir orang lain, tetapi dapat kita lihat kerancuan berpikir dari si penulis post itu sendiri.



Saya setuju bahwa yang "tidak percaya gajah terbang itu ada" memang tidak perlu memberikan sebuah bukti karena tidak percaya koq diminta memberikan bukti. Tetapi kalimat berikutnya yang menyebutkan "memberikan bukti ketiadaannya" adalah sebuah pola pikir yang rancu. Bagaimana bisa memberikan bukti ketiadaannya sedangkan keberadaannya saja tidak pernah tahu? 

Untuk bisa menyatakan "sesuatu" itu tidak ada, kita harus mengetahui parameter2 apa saja yang digunakan untuk membuktikan "sesuatu" itu ada. Jika parameternya adalah tampak visual, luas, volume dan berat, maka kita harus membuktikan bahwa selama ini tidak pernah ada penampakan visual, luas, volume dan berat dari "sesuatu" itu. Bagaimana cara membuktikannya? Ya telusurilah seluruh penjuru alam ini, buat dokumentasinya dari setiap pelosok yang ada dan kemudian buatlah konperensi pers bahwa "sesuatu" itu memang tidak ada. Tentu saja ini merupakan hal yang absurd dan nonsense bukan?


Jadi, membuktikan keberadaan atau ketidakberadaan "sesuatu" itu sama2 nonsensenya jika kita tidak pernah mengetahui parameter2 apa saja yang digunakan untuk membuktikan "sesuatu" itu ada. 


Bagi saya, kedua kalimat pada paragraf paling atas itu hanya berbeda sudut pandangnya saja. Dua2nya adalah sebuah kondisi "state of mind", yang satu menggunakan pendekatan dengan "tidak percaya dulu", yang satunya menggunakan pendekatan dengan "percaya dulu". 


"Tidak percaya dulu" bukanlah sesuatu yang lebih baik dari "percaya dulu". Bayangkan jika anda harus naik sebuah bus antar kota antar propinsi dan berangkat dengan modal "tidak percaya dulu". Bisa2 anda tidak akan pernah sampai kota tujuan karena harus memastikan bahwa roda bus itu tidak akan lepas di jalan atau remnya tidak blong.

No comments:

Post a Comment