Friday, January 18, 2013

Hitam Putih

Isi alam ini tidak selalu exact seperti pembagian warna hitam dan putih. Lebih banyak fenomena2 yang berada pada daerah abu2 (grey area). Semua pengetahuan yang kita peroleh itu sumbernya dari pengetahuan orang lain, mencari pengetahuan sendiri dan lebih banyak lagi yang berupa presumption (embuh bahasa Indonesianya apa).

Presumption sangat dipengaruhi oleh jumlah data yang ada di memori dan kemampuan penalaran. Seorang doktor ilmu fisika bisa saja kekurangan data tentang hal2 dalam bidang biologi karena bidang studinya bukan di bidang itu. Seorang tukang sayur juga bisa kekurangan data dalam bidang peternakan ayam dan itu hal yang wajar.

Misalkan ada seorang ibu yang memiliki dua orang anak, sebut saja A dan B, dimana B jauh lebih bodoh dari A. Dengan teori biology dan molecular biology bisa dijelaskan mengapa ada anak yang bisa lebih pandai dari saudaranya, teapi penjelasan itu lebih banyak hanya berisi teori2 tentang apa saja yang bisa menyebabkan seseorang menjadi pandai. Tidak bisa dijelaskan secara detail mengapa A bisa menjadi lebih pandai dari B, misalkan karena perbedaan gizi sekian kalori, nutrisi sekian gram, jenis bacaan seperti ini itu, pola tidur sekian jam, olah raga sekian jam dan lain2. Artinya, fenomena si A lebih pandai dari B itu tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, misalkan dengan mengeluarkan buku pedoman secara detail dan akurat "Bagaimana membuat anda bisa melahirkan anak2 yang pandai". Yang bisa dijelaskan secara ilmiah adalah penjelasan umum tentang apa penyebab seseorang bisa menjadi pandai, bukan spesifik terhdap seorang anak walaupun semua data kehidupan anak itu bisa didata secara detail sejak lahir sampai usia 10 tahun misalnya.

Dari uraian singkat ini kita bisa memahami bahwa di sekitar kita itu jauh lebih banyak hal2 yang tidak ilmiah dibandingkan dengan hal2 yang ilmiah. Ilmiah (atau sains) hanya bisa menjelaskan basic knowledge tentang apa, mengapa dan bagaimana dari sebagian fenomena yang ada di alam ini, bukan mampu menjelaskan semua fenomena.

Artinya apapun fenomena yang kita indera, sangat dipengaruhi oleh presumption yang kita buat sendiri, lepas dari apakah kita sudah memahami scientifc basic knowledge-nya atau tidak.

Begitu juga dengan definisi. Saya sering menyebutkan bahwa saya adalah agnostic panentheism. Tentu saja ada orang yang protes bahwa secara definisi agnostik itu tidak begini begitu dan pantheism / panentheism itu tidak begini begitu. Masalahnya definisi yang mana yang digunakan. Presumption apa yang ada dalam definisi itu. Jadi untuk menghilangkan debat kusir yang berkepanjangan, mulai saat ini saya akan memproklamirkan diri sebagai "Agnostic Panentheism Plus Plus". Plus Plus itu bebas diimajinasikan seperti apa dan imajinasi itu yang paling baik adalah imajinasi yang tidak terbatasi oleh pikiran sendiri.

Buatlah imajinasi yang spektakuler dan setelah itu carilah bukti2 yang menunjang imajinasi spektakuler itu. Jangan hanya bersikap menunggu dan terjebak dalam presumption yang kita buat sendiri. Imajinasi adalah awal dari pengetahuan.

No comments:

Post a Comment