Wednesday, January 9, 2013

Mengenali Ego


Dalam pribadi manusia, ada yang disebut dengan ID (naluri), EGO (saya/aku), dan SUPEREGO (norma). Pembagian tiga identitas ini dimunculkan pertama kali oleh Freud yang menyebutkan "das Es," "das Ich," dan "das Über-Ich".   Ketiga hal ini akan membantu manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya. Secara naluriah, manusia akan berusaha bertahan hidup dengan cara apapun seperti yang disebut di atas, termasuk mempertahankan diri dan eksistensinya dalam lingkungan.

Ego (pribadi) merupakan inti dari kesatuan manusia, dan bila terjadi ancaman terhadap ego hal ini merupakan ancaman terhadap eksistensi manusia. Sehingga kegagalan/kekecewaan terhadap pencapaian hal tersebut, atau membuat terusiknya ego manusia, salah satunya diungkapkan dengan marah. 


Selain sebagai bentuk ekspresi emosi, marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin kita sampaikan ketika kita marah. Tanpa marah, orang lain malah menganggap kita main-main atau tidak serius. Dalam hal ini, tentunya juga berkaitan dengan masalah budaya. Dalam budaya masyarakat tertentu, suatu bentuk ekspresi seseorang akan dianggap sebagai bentuk ekspresi marah sedangkan dalam budaya masyarakat lain dianggap biasa-biasa saja, salah satu contoh konkretnya adalah logat bahasa.

Ego bisa dikenali dari yang paling mudah dideteksi seperti misalnya ingin mendapatkan perlakuan khusus dari orang lain, ingin dianggap lebih cantik / ganteng, lebih cerdas, lebih kaya, lebih rendah hati, lebih bijaksana, dan semua keinginan2 lainnya yang intinya mengunggulkan dirinya dibandingkan dengan orang lain.

Contohnya, misalkan saya sedang berada di lift dan tiba2 ada hape berbunyi dan si penerima hape segera berkomunikasi dengan suara kencang tanpa memperhatikan orang lain di sekitarnya. Pasti ada sebagian orang yang berpikiran bahwa si penerima hape ini adalah orang yang tidak tahu etika dan tidak tahu diri. Sebagian orang itu mungkin juga berpikiran bahwa mereka tidak akan melakukan kebodohan yang sama, dan ini adalah ego. Karena saya selalu terganggu dengan suara2 keras dan di kantong saya selalu tersedia earplug, maka earplug itu segera saya pasang tanpa saya harus memikirkan apakah orang itu bisa tersinggung atau tidak. Soal nantinya jadi ribut2, itu urusan lain.

Contoh yang lain lagi misalnya ada orang yang nggedabrus di wall-nya sendiri dan menuliskan "Kecantikan itu hukumnya wajib. Oleh karena itu rawatlah kecantikan."  Ini merupakan salah satu ego yang mudah dikenali karena ybs merasa bahwa dirinya cantik dan ybs tidak mempertimbangkan bahwa di dunia ini juga banyak orang yang sudah berusaha keras untuk cantik tetapi selalu gagal.

Dan yang paling sering saya amati adalah ego dari orang2 yang merasa dirinya paling benar. Ciri2nya adalah sering memasang ayat2 atau nasehat2 di wall atau group. Termasuk mendongengkan tentang cinta kasih tuhan dan sejenisnya padahal di ujung dunia sana ada satu benua Afrika yang sehari2 selalu miskin dan kelaparan tanpa mendapatkan cinta kasih apapun dari orang lain ataupun dari tuhan.

Absurd? Memang demikian. Ego itu memang sering absurd dan tidak realistis. Makanya saya berpendapat bahwa ego itu sangat erat hubungannya dengan intejelensia dan pengetahuan. Semakin tahu seseorang dengan alternatif apa saja yang bisa terjadi di alam ini, semakin dia mampu membuat keseimbangan dalam pemikirannya tanpa harus memihak sisi manapun.

No comments:

Post a Comment