Friday, March 15, 2013

Takdir

Morpheus: Apakah kamu percaya pada takdir, Neo?
Neo: Tidak. 
Morpheus: Mengapa tidak? 
Neo: Karena saya tidak menyukai sebuah idea bahwa saya tidak memiliki kontrol terhadap hidup saya sendiri.


---ooOoo---


LM, apakah anda percaya takdir?

LM: Sebetulnya perlu dikembalikan dulu ke konsep "takdir" itu seperti apa. Takdir itu selalu berhubungan dengan ketuhanan, maka dari itu pembahasan takdir tidak akan lepas dari masalah ketuhanan. Dalam konsepnya, takdir adalah ketentuan2 dari tuhan terhadap ciptaannya yang dapat dianggap sebagai harga mati, tidak bisa diubah.

Kata "ketentuan" ini yang harus diperjelas. Apakah itu kira2 berarti "Si A akan lahir dari orang tua namanya si B, akan lahir di kota X, dengan berat sekian kilogram". Dimana konon ketentuan ini sudah dituliskan jauh2 hari dalam kitab yang bernama Lauhul Mahfudz.

Ataukah ketentuan itu adalah properties dan karakteristik dari setiap entitas yang merupakan hasil dari rangkaian sebab akibat sebelumnya.

Contohnya, misalnya ada A yang berjodoh dengan B. Apakah itu karena sudah dituliskan dalam kitab, atau karena ada probabilitas yang memungkinkan A untuk berjodoh dengan B, misalnya mereka tinggal di kota yang sama, tinggal di sekolah yang sama, sama2 cantik dan ganteng, sama2 waras dan sama2 normal.

Dalam hal ini pasti ada saja orang2 yang berpendapat bahwa semua precondition itu juga sudah ditentukan dari awal, misalnya mereka sudah ditentukan untuk sekolah di tempat yang sama dan selanjutnya.

Dari analisa secara logis, kita bisa sependapat bahwa sesuatu yang bekerja secara otomatis itu jauh lebih hebat daripada yang bekerja secara manual. Seekor singa yang bisa mendeteksi seekor kijang dengan inderanya sendiri tentu akan jauh lebih hebat daripada singa yang otaknya mesti "digerak2kan" agar tahu bahwa di depannya ada kijang yang bisa menjadi makanannya.

Dengan pemahaman tentang "otomatisasi" itu, tentunya kita sependapat bahwa sesuatu yang bergerak secara otomatis itu bisa membuktikan bahwa "penciptanya" lebih hebat daripada jika si pencipta mesti turun tangan menggerakkan satu persatu dan membuat buku standar procedure-nya atau buku manual-nya jauh2 hari sebelumnya.

Dari pemahaman tentang hal itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang predefined sejak awal, atau sebut saja dengan predestiny atau predetermined sejak awal, adalah properties dan karakteristiknya, bukan hasil akhirnya. Gambaran mudahnya kira2 begini : If A then B. Atau If C and D and E, then F...dan seterusnya sampai ada jutaan parameter dalam logika if-then-else tersebut.

Yang predefined adalah prosesnya, bukan hasil akhirnya. Padahal jika ada ribuan proses yang interconnected, maka hasilnya bisa bervariasi sampai milyaran variasi.

Control your destiny, or someone else will!

2 comments:

  1. Keren dan penuh inspiratif gan... ijin jalan2 ahahaha :)

    ReplyDelete