Saturday, July 20, 2013

Obyektivitas

Definisi:

Generally, objectivity means the state or quality of being true even outside of a subject's individual feelings, imaginings, or interpretations. A proposition is generally considered to be objectively true (to have objective truth) when its truth conditions are met and are "mind-independent"

Sekarang kita asumsikan sedang menilai warna sebuah apel secara obyektif. Semua orang melihat apel itu berwarna merah. Warna merah itu dipersepsi oleh mata, disimpan di memori, lalu diolah oleh otak untuk dibandingkan dengan database warna yang sudah ada di memori. Begitu sudah ketemu warna merah di database yang sama dengan warna merah apel tersebut, maka ybs setuju bahwa apel itu berwarna merah. 

Benarkah penilaian warna merah itu sudah dilakukan secara obyektif dan lepas dari semua individual feelings, imaginings, or interpretations? Saya pikir tidak demikian. Kita tahu bahwa kemampuan reception mata setiap orang berbeda2, dan database warna dalam otak manusia juga bervariasi. Jika merah yang dianggap benar adalah RGB 255-0-0, tidak semua orang bisa melihat persis dengan warna itu. Ada yang melihat RGB 255-10-12, ada yang RGB 255-17-02 dst. Ini kasus yang umum dan bukan kasus buta warna.

Feelings, imaginings, or interpretations itu sangat tergantung pada database yang ada di memori kita. Bagaimana bisa mengimajinasikan gajah terbang jika tidak pernah ada gambar gajah dalam memori kita? Bagaimana bisa mengimajinasikan rasa jeruk jika tidak pernah makan jeruk?

Artinya, apa yang disebut obyektif itu sebetulnya hanyalah kumpulan subyektivitas yang memiliki kemiripan sangat tinggi sehingga DIASUMSIKAN sebagai hal2 yang obyektif.

Obyektif bagi seratus orang belum tentu obyektif bagi satu juta orang, karena biar bagaimanapun obyektivitas itu hanyalah kesepakatan tidak tertulis terhadap hal2 yang subyektif.

No comments:

Post a Comment