Thursday, August 15, 2013

Precognition

Precognition berasal dari bahasa Latin præ-, yang artinya "sebelum" + cognitio, yang artinya "pengetahuan". Berbeda dengan recognition yang berasal dari "re", yang artinya "tentang" + cognitio, yang artinya "pengetahuan". Recognition adalah mengambil kembali pengetahuan yang sudah ada di otak. Sedangkan precognition adalah pengetahuan yang muncul sebelum saat yang seharusnya sebagai hasil dari adanya ESP (extra sensory perception). Dalam bahasa indonesia disebut ramalan, terawangan, dalam bahasa Jawa "weruh sakdurunge winarah" yang artinya "paham sebelum tahu".

Precognition disebut juga dengan :
- Inner Eye (mata bathin)
- Foresight (terawangan)
- Fortunetelling (ramalan keberuntungan)
- Premonition (firasat)
- Second Sight (indera kedua)
- Sixth Sense (indera keenam)

Ada kubu yang mendukung bahwa recognition itu ada, dan ada juga kubu yang menyatakan bawha recognition itu hanyalah imajinasi belaka.

Salah satu kubu yang berisi orang2 skeptis yang normal, yaitu bukan orang2 skeptis yang terdogma untuk menolak dan mencari2 alasan untuk menolak semua hal2 yang tidak masuk akal mereka, yaitu sebuah situs bernama CSI, The Commitee for Skeptical Inquiry, mengatakan bahwa misi mereka bukanlah sekedar menolak semua hal2 yang tidak masuk akal mereka, tetapi justru mencari bukti2 lanjutan sebisa mungkin yang dapat menunjang klaim yang dibuat oleh orang lain (The mission of the Committee for Skeptical Inquiry is to promote scientific inquiry, critical investigation, and the use of reason in examining controversial and extraordinary claims).

Dalam salah satu artikelnya, CSI menuliskan tentang "The Best Case for ESP?", dengan tanda tanya, dimana dalam hal ini CSI tidak mampu membuktikan bahwa ESP itu benar2 ada atau benar2 tidak ada karena bukti2 yang diperolehnya cukup berimbang. Beberapa diantara eksperimen2 itu adalah Daryl Bem Experiment dan Ganzfeld experiment.

Pada Ganzfeld Experiment, sekumpulan orang ditempatkan pada ruang yang kedap suara, dimana di telinganya diberi headphone dan suara desis (white noise) lalu matanya ditutup dengan separuh bola pingpong yang diberi pendaran cahaya warna merah dengan tujuan agar sensor telinga dan mata terganggu sehingga tidak bisa melakukan reception apapun terhadap sinyal2 dari luar.

Di ruangan yang lain, ada seseorang yang mencoba mengirimkan pesan2 berupa gambar melalui telepati dan orang2 di ruangan kedap suara tadi diminta untuk mencoba menebak apa sinyal gambar yang dikirimkan itu. Hasilnya adalah hit rate sebesar 32.2, 34, dan 37% setelah dilakukan riset pada tempat yang berbeda dan berulang2 kali. Hit rate ini sangat signifikan jika dilihat dari teori statistik dimana p < 0.001. p adalah nilai statistik yang menjelaskan seberapa banyak bukti yang bertentangan dengan penjelasan umum dari data set yang ada. (p-value is a statistical value that details how much evidence there is to reject the most common explanation for the data set).

Untuk bisa membuktikan apakah precognition itu benar2 ada atau tidak ada, masih diperlukan eksperimen yang lebih banyak lagi dengan berbagai parameter yang diganti2.

No comments:

Post a Comment