Friday, November 22, 2013

Kontemplasi

Kontemplasi itu berasal dari bahasa Latin Contemplatio, yang artinya mengamati dan berpikir lebih mendalam. 

Ada sebagian orang yang melakukan kontemplasi di tempat2 yang sepi seperti misalnya di pinggir hutan, di pinggir sungai, di lereng gunung atau di puncak gunung.

Biasanya, pada saat kontemplasi itu mereka akan mendapatkan sebuah pemikiran atau idea yang baru, yang berasal dari sintesa berbagai data dalam memorinya. Sebuah idea baru hanya bisa muncul jika ada data pendukung yang sudah ada di memori. Sebagai contoh, seorang perancang microprocessor bisa mendapatkan idea untuk merancang microprocessor yang lebih canggih seperti misalnya microprocessor berbasis protein, itu hanya bisa terjadi jika si perancang itu sudah memiliki data tentang rancangan sebuah microprocessor di dalam memorinya. 


Jangan pernah berasumsi bahwa seorang primitif dari kelompok Neanderthal akan mampu membuat sebuah idea tentang processor karena di dalam otaknya belum pernah ada data rancangan microprocessor apapun, bahkan rancangan sebuah transistorpun belum pernah ada dalam otaknya. Jika belum pernah tahu tentang listrik, elektronik dan transistor, bagaimana bisa mampu membuat sebuah idea tentang microprocessor?

Begitu pula dengan sebagian orang yang suka berkontemplasi itu. Setelah mereka mendapatkan idea yang baru dan belum pernah diperoleh seumur hidupnya, mereka kemudian BERASUMSI bahwa idea itu datangnya dari Tuhan. Padahal idea itu datangnya ya dari hasil olah data yang ada di otaknya sendiri yang disintesakan sehingga menjadi sebuah idea atau disimpulkan menjadi sebuah pengetahuan yang baru. 

Untuk menguji pernyataan ini tentu sangat mudah dilakukan. Kirimlah orang2 idiot untuk melakukan kontemplasi di berbagai tempat sepi di semua penjuru dunia ini, lalu berikan pedoman bahwa tujuan mereka berkontemplasi adalah untuk menghitung sebuah perkalian 26547 x 18746 dengan pengetahuan atau idea yang terbaru sehingga hanya dibutuhkan waktu 5 detik untuk menghitung perkalian tadi. Jangan pernah berharap bahwa kontemplasi semacam ini akan berhasil mencapai tujuannya.

Oleh karena itu, jangan tergesa2 dalam membuat sebuah kesimpulan atas berbagai fenomena yang ada di alam ini. Jangan pula membuat sebuah asumsi yang tadinya ditujukan agar kita terlihat hebat dan superb tetapi sebaliknya malah akan menunjukkan ignorance kita (kebodohan karena pengabaian kita). 

Kita harus tetap ingat pada sebuah pedoman bahwa adanya korelasi tidak selalu menghasilkan adanya hubungan sebab akibat. Post hoc ergo propter hoc. Correlation does not imply causation. 

Sebetulnya kontemplasi itu adalah sebuah perenungan diri. Mengamati dan menilai bagaimana sikap dan perilaku kita selama ini. Selain itu juga mengamati dan merenungkan mengapa dan bagaimana terjadinya sebuah fenomena. Hal semacam ini banyak dilakukan oleh para filsuf jaman dahulu. Sayangnya banyak orang2 masa kini yang baru melakukan kontemplasi hanya 3 hari atau 7 hari saja lalu mengaku2 sudah mendapatkan wangsit dari tuhan dan membuat klaim bahwa yang diperolehnya adalah sebuah divine knowledge yang tidak bisa diperoleh dengan belajar di dunia nyata. Orang2 seperti itu bukannya terlihat cerdas tetapi malah terlihat seperti orang sakit jiwa.

No comments:

Post a Comment