Thursday, December 12, 2013

Obyektivitas

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa penilaian yang obyektif itu adalah penilaian yang paling baik karena ditunjang oleh fakta2 empiris.

Contohnya, ada yang membuat pernyataan bahwa "sebagian besar rakyat Indonesia lebih menyukai makan nasi daripada makan bakmie". Ini bisa dibuktikan secara empiris baik dengan pengamatan atau survey bahwa di mana2 (secara totalitas) lebih banyak orang2 Indonesia yang makan nasi.

Meskipun demikian, benarkah yang disebut penilaian yang obyektif itu memiliki probabiltas untuk selalu lebih benar dibandingkan dengan penilaian yang subyektif?


Jawabannya "Belum tentu". Kita bisa amati bahwa sebagian besar rakyat Indonesia pergi ke tempat kerja dan pulang dari tempat kerja dengan menggunakan angkutan umum. Dari beberapa survey yang dilakukan oleh media massa, jumlah penumpang angkutan umum itu kira2 antara 60% s/d 70% dari total jumlah penumpang. 

Jika ada orang yang membuat kesimpulan bahwa "Sebagian besar rakyat Indonesia lebih suka naik kendaraan umum", karena faktanya ada 60-70% orang yang naik kendaraan umum, itu bukanlah sebuah kesimpulan yang dijamin benar. "Lebih suka" itu bisa diganti dengan kata "terpaksa" dan akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Untuk bisa tahu apakah alasan rakyat itu berupa "lebih suka" atau "terpaksa", masih diperlukan satu survey dan wawancara lagi untuk melihat alasan mana yang lebih banyak dipakai orang. 

Ini adalah salah satu contoh post hoc ergo propter hoc fallacy, dimana adanya korelasi antara rakyat dengan banyaknya penumpang angkutan umum tidak secara otomatis membuktikan bahwa rakyat "lebih suka" naik angkutan umum. Masih ada beberapa alasan lain untuk terjadinya fenomena itu.

Pada dasarnya kesimpulan yang dianggap obyektif itu adalah kesimpulan subyektif yang ditunjang dengan beberapa bukti empiris yang bisa ADA atau TIDAK ADA hubungan sebab akibatnyanya dengan kesimpulan yang dibuat.

1 comment:

  1. Lebih banyak, Iya. Lebih suka? Belum tentu, memang.
    Jadi ingat pilkada di tempat saya, karena kinerja si A sebelumnya dianggap kurang memuaskan, konstituen kayak sepakat : yang penting 'bukan si A', tanpa menganalisa lebih jauh tentang si B yang menjadi rivalnya. Akhirnya,jadilah si B. Setelah jadi, masyarakat barulah terperangah, lho...lho.. koq malah semakin jauh dari yang diharapkan. Malah sub standar dari si A.

    ReplyDelete